1. Takut menikah/berkeluarga. Mereka ragu akan kebahagiaan dan kedamaian sebuah keluarga. Ada ketakutan bahwa pernikahan mereka nanti akan seperti pernikahan orangtuanya,dan mereka akan melakukan hal yang sama kepada pasangannya kelak.
2. Minder/tidak percaya diri.
Mereka terluka karna seringnya melihat orangtua bertengkar.Muncul perasaan malu terhadap orang lain. Pikiran mreka bingung karna harus membela mama atau papa.
3. Pemarah. Anak belajar dari perilaku orangtuanya.
Sebaiknya pertengkaran suami isteri tidak didepan anak-anak. Pergilah ke ruangan tersendiri(time out) dimana anak-anak tidak bisa mendengar. Namun, bila tidak terhindarkan lagi didepan anak, apa yang sebaiknya dilakukan?
1. Jangan mengucapkan kata-kata kasar dan menjatuhkan,misal: bodoh, menyesal menikah,dll.
2. Jangan menggunakan kekerasan fisik,misal: menampar, menendang,dll.
3. Jangan melempar atau membanting benda,misal: membanting pintu, melempar hp,dll
4. Jangan minta anak untuk membela mama atau papa. Jangan libatkan anak dengan meminta memilih membela mama atau papa, terlebih-lebih kita menjelek-jelekan pasangan kita kepada anak-anak.
5. Cari solusi segera.
Ini mengajarkan anak bahwa pertengkaran ada solusinya. Bila berhasil maka dapat menjadi pelajaran berharga bagi anak untuk belajar mengatasi konflik.
Janganlah amarah kita sampai dengan matahari tenggelam.Dasar sebuah pernikahan adalah kasih/cinta. Cinta bisa dibangun dan dibangkitkan kembali.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar